- 1 -

[ لمتابعة رابط المشاركة الأصليّة للبيان ]
ikuti pautan postingan keterangan asal

Al Imam Nasser Mohemmed Al Yamani
25 - 11 - 1437 هـ
28 - 08 - 2016 مـ
01:16 مساءً
ــــــــــــــــــــ


Bayan keterangan mengenai ta'zir dan tasyhir, juga mengenai hukuman bagi pencuri yang melakukannya secara diam-diam, dan hukuman bagi perampok yang menjarah terang-terangan dan membegal (menyamun) para musafir di jalanan..


Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani, sholawat dan salam ke atas seluruh nabi dan rasul yang dimuliakan, juga ke atas ahli keluarga mereka yang disucikan, dan ke atas semua orang-orang yang beriman di setiap zaman dan tempat hingga Hari Pembalasan, selanjutnya..


Allah Ta'ala berfirman:
Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan: "Itu adalah awan yang bertindih-tindih".(44) Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, (45) (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. (46) Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (47) Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri, (48) dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar). (49)
Maha Benar Allah
[Ath Thuur]


Demi Allah, tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya, sesungguhnya azab Allah pasti datang pada umat ini, Allah akan mengirimkan azab-Nya dari langit ke bumi kepada orang-orang zalim, kelak akan tampak bagi kalian akan perkara yang tidak pernah kalian duga dari Allah

Sesungguhnya aku telah berulangkali menyeru kalian secara beramai-ramai dengan berterus-terang, dan menyeru kalian lagi secara berseorangan dengan perlahan-lahan, aku telah memperingatkan kalian bahawasanya Allah benar-benar murka kerana Kitab-Nya, yang kalian abaikan dan kalian menolak untuk kembali berhukum dengannya pada perkara yang kalian perselisihkan


Barangkali seorang muslim kalangan awam mahu mengatakan: "Bagaimana kami dapat tahu engkau adalah Al Mahdi Al Muntadhar! Betapa banyaknya orang yang mengaku Imam Mahdi; lebih dari tigapuluh pendusta telah mengaku, kesemuanya mengatakan dirinya Imam Mahdi yang dinanti, kerana itu kami rasa engkau juga sama seperti mereka wahai Nasser Mohammed Al Yamani, kerana itu juga engkau perlu memaafkan kami yang golongan awam ini, sebab kami ini hanya menunggu, jika ulama telah mengesahkan bahawa engkau adalah Al Imam Al Mahdi tentu kami juga akan membenarkanmu dan mengikutimu, dan jika mereka mendustakanmu kami juga ikut mendustakan"

Untuk itu Al Imam Al Mahdi Nasser Mohammed Al Yamani membalas: Seburuk-buruk akal fikiran adalah akal fikiran kalian, dan seburuk-buruk ulama adalah ulama kalian, yang tidak dapat membezakan antara unta dan keldai, yang tidak dapat membezakan antara ta'zir dan tasyhir, demi Allah, tiada tuhan yang berhak disembah selain-Nya, sesungguhnya perbezaan antara Al Mahdi Al Muntadhar yang hak dan antara orang yang mengaku Imam Mahdi secara batil dan dusta, perbezaannya adalah bagaikan seekor unta yang berada di antara tigapuluh ekor keldai! Adakah kalian tidak dapat membezakan yang mana satu unta di antara sekumpulan keledai
?
Seperti itulah halnya ulama kalian, yang kalian tunggu pengesahan mereka untuk kalian ikut, begitu juga tidak ada perbezaan bagi ulama kalian antara ta'zir dan tasyhir, meskipun ada perbezaan yang besar antara keduanya, jika kalian bertanya pada semua ulama kalian dan membaca buku-buku mereka, kalian akan dapati ta'zir adalah suatu bentuk penalti hukuman dari peraturan-peraturan (hudud) Allah, yang dilaksanakan terhadap pelaku kesalahan yang berbuat kerosakan di bumi

Maka dari itu Al Mahdi Al Muntadhar Nasser Mohammed Al Yamani menegakkan hujjah terhadap kalian dari muhkam Kitabullah bagi pengertian ta'zir,
kalian akan dapati Allah menyatakan bahawa ta'zir adalah menolong, membantu, meneguhkan dan menguatkan para nabi dan para pemimpin yang berhukum dengan Kitabullah, lalu bagaimana kalian menjadikan 'ta'zir' sebagai penalti hukuman ke atas orang-orang yang berbuat kerosakan di bumi? Adakah menurut kalian para nabi itu membuat kerosakan di bumi? Bukankah Allah memerintahkan kalian untuk menta'zir mereka –menolong, membantu, meneguhkan dan menguatkan- mereka
?
Kalian akan temukan pernyataan Allah pada muhkam Kitab-Nya dalam Al Quran, pada ayat-ayat muhkamat yang jelas bagi ulama umat dan golongan awam umat Islam, tiada yang mengingkari ayat-ayat muhkamat kecuali orang-orang yang kasik, adakah kalian dapat menolak wahai sekalian ulama umat Islam serta kalangan awam kaum muslimin, bahawa ta'zir dalam Al Quran adalah menolong, membantu, meneguhkan dan menguatkan, bukannya menegakkan hukuman ta'zir? Bahkan kalian akan menemukannya bertentangan sama sekali
!
Allah menyatakan pada kalian bahawa ta'zir adalah menolong, membantu, meneguhkan dan menguatkan, yakni pertolongan dan bantuan untuk para nabi Allah

Pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:
Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, (8) supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (9)
Maha Benar Allah
[Al Fath]


Demikian juga Allah telah perintahkan setiap umat untuk bantu rasul-Nya yang diutus kepada mereka

Pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.(12) (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya
Maha Benar Allah
[Al Maaidah]


Lihatlah oleh kalian akan Yusuf Qardawi yang menamakan hukuman rejam sebagai hukuman ta'zir, dia mengatakan: Hukuman rejam telah dilaksanakan oleh Nabi pada permulaan kerana ianya dulu ada dalam syariah Yahudi". Ya Subhaanallaah, aduhai Maha Suci Allah
!
Bahkan hukuman Yahudi itu palsu, sebuah kebohongan dalam agama Muhammad Rasulullah -shollallaahu 'alayhi wa aalihi wasallam-, Allah tidak menurunkan aturan hukuman rejam dengan batu sampai mati; akan tetapi yang demikian itu adalah hukuman dalam aturan thagut, yang dibawakan oleh syaitan untuk dijalankan terhadap orang-orang yang menolak untuk menyembah thagut dan berhala, terhadap orang-orang yang kembali menuju peribadatan kepada Allah, lalu thagut memutuskan hukuman ke atas mereka, dengan merejam mereka menggunakan batu sampai mati

Sebab itu Allah Ta'ala berfirman menceritakan kisah Ashaabul Kahfi; firman Allah Ta'ala:
Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya". (20)
Maha Benar Allah
[Al Kahfi]


Pertanyaan yang muncul: Adakah kalian berhukum dengan aturan hukum thagut syaitan yang direjam? Kerana demikian itu adalah aturan hukum yang dibawa oleh syaitan thagut, dia mengarahkan penolong-penolongnya untuk melaksanakan hukuman rejam terhadap orang yang keluar dari agama penyembahan berhala, yang menuju peribadatan kepada Ar Rahman, maka demi Allah, sesungguhnya kalian berhukum dengan aturan hukum syaitan, kalian meninggalkan aturan hukum Ar Rahman dalam muhkam Al Quran


Mengenai hukuman rejam bagi penzina yang telah menikah, ya benar, ianya adalah hukuman Yahudi berupa kebohongan terhadap Allah dan para rasul-Nya, sebagaimana yang telah kami jelaskan kepada kalian secara terperinci sejak beberapa tahun lalu, ianya bukan syariah Yahudi, namun ianya adalah hukum Yahudi berupa kebohongan yang direkayasa oleh syaitan-syaitan manusia, kaum munafik dari kalangan Yahudi yang berbuat dusta terhadap Allah dan Rasul-Nya, Allah tidak menurunkan bukti untuk itu, tidak ada dalam Taurat, tidak juga di Injil dan tidak ada dalam Al Quran

Perkara kedua, bagaimana pula Nabi dikatakan berhukum dengannya pada permulaan? Bukankah Allah telah melarang Rasul-Nya dan memperingatkan baginda dari mengikuti hawa nafsu kemauan mereka? Bahkan Allah telah memerintahkan Nabi -shollalaahu 'alayhi wasallam- untuk menghukumi di antara mereka pada semua perkara yang mereka perselisihkan dalam Taurat dan Injil, maka baginda mendatangkan aturan hukum pada wahyu yang Allah turunkan dalam muhkam Al Quran, lalu Allah mendatangkan kepada mereka hukum keputusan-Nya yang hak dari muhkam Al Quran

Ini kerana Allah telah menjadikan Al Quran sebagai kitab utama yang menguasai, mengawal dan menolak keputusan hukum Taurat, Injil dan hadits-hadits Sunnah Nabawiyah, segala perkara yang bertentangan dengan muhkam Al Quran, maka perkara itu adalah rekayasa kebohongan yang datang dari selain Allah


Adapun ta'zir, maka aku tidak temukan dalam Kitabullah bahawa ianya merupakan aturan hukuman sebagai balasan (hudud jazaaiyah); bahkan bertentangan sama sekali, ianya adalah seruan dari Allah agar kalian berikan pinjaman yang baik kepada-Nya, untuk membantu para rasul-Nya dan para pemimpin yang berhukum dengan Kitabullah

Pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:
Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka 12 orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.(12) (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya
Maha Benar Allah
[Al Maaidah]


Allah Ta'ala berfirman:
Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, (8) supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (9)
Maha Benar Allah
[Al Fath]


Bagaimana pula engkau dapat buatkan ta'zir menjadi 'hukuman penalti' wahai Qardawi? Bahkan hukuman penalti adalah tasyhir (pewartaan kesalahan secara terbuka) bagi pembunuh, setelah perlaksanaan hukuman terhadapnya dengan disalib (dipancung kepalanya), kemudian jasadnya dikuburkan, manakala kepalanya yang dipenggal diasinkan kemudian digantung di jalanan awam, agar jadi ibrah -pelajaran dan peringatan- bagi mereka yang memperhatikan dan mengambil pelajaran

Sebagai hukuman penalti bagi orang-orang yang membunuh manusia secara zalim dan kejam, yang demikian itu dinamakan tasyhir bukan ta'zir, kerana ta'zir adalah membantu, menolong dan meneguhkan, manakala tasyhir adalah kalian mewartakan secara terbuka akan peraturan dan ketentuan Allah, bagi orang-orang yang kalian laksanakan aturan hukum Allah terhadap mereka, sekiranya mereka tidak dimaafkan oleh pihak yang menuntut balas, yang sudi memaafkan kerana mengharap redha Allah


Begitu juga hukuman bagi para pencuri, tangan-tangan mereka dilukai dengan pukulan dari bawah pergelangan tangan; yakni sebelah telapak tangannya dipukul dengan cambuk cemeti hingga menitiskan darah, Allah tidak maksudkan kalian memotong tangannya sampai kudung; namun melukai telapak tangan kiri mereka sahaja, demikian itu dengan mencabuk telapak tangan hingga darahnya menitik, sebagaimana yang kelak akan kami jelaskan setelah pengukuhan kuasa (tamkin)


Mengenai orang-orang yang merampok, menyamun dan membegal harta manusia di jalanan pula, tentu sahaja perampasan terang-terangan yang dilakukan itu adalah lebih dahsyat dari mencuri secara sembunyi-sembunyi, kerana ianya diikuti dengan kekerasan dan pemaksaan terhadap mangsa yang lemah, maka hukuman yang ditetapkan Allah dalam Al Quran adalah tangan dan kaki mereka dilukai secara silang, yakni dicederakan dengan cambuk cemeti untuk menyakiti dan melukakannya sampai tangan kirinya menitiskan darah, dan bahagian bawah kakinya juga

Allah tidak maksudkan kalian memotong habis hingga kudung tangan dan kakinya; Jika begitu, bagaimana nantinya jika dia mengulangi lagi perbuatannya, apa lagi yang akan kalian potong, tangannya yang satu lagikah atau kakinya yang sebelah lagi!! Kalau begitu bagaimana dia dapat hilangkan najis kotoran yang membahayakannya? Bagaimana dia dapat berwudhu
?
Lalu bagaimana dia dapat bekerja untuk anak-anaknya setelah dia bertaubat dan mengendalikan dirinya dari kejahatan, kalian sama sekali tidak mampu mengatakan, bahawa yang Allah maksudkan dalam kisah wanita-wanita yang melukai tangan mereka, adalah dengan memotongnya habis, kerana mereka tidak memotong tangan mereka ketika melihat Yusuf:
Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)nya, dan mereka melukai (jari) tangannya Maha Benar Allah [Yusuf:31], maka jelas bagi kalian bahawa yang Allah maksudkan sebenarnya adalah melukai tangan mereka dengan pisau; yakni membuatnya terluka, bukan memotong habis tangan


Bagaimanapun, kelak kami akan tinggalkan tambahan keterangan mengenai hukuman bagi pencuri dan pembegal jalanan, kerana ianya bermacam-macam mengikut kadar jenayah yang dilakukan, antara mereka ada yang mahu melakukan jenayah, namun mereka telah ditangkap sedang mereka itu pembegal (penyamun) jalanan, hanya sahaja mereka ini belum sempat lagi melakukan jenayah, maka hukuman terhadap mereka adalah dibuang negeri

Allah tidak maksudkan kalian membuang mereka pada kaum lain, nanti mereka akan membuat kerosakan di tempat kaum itu pula; namun yang Allah maksudkan dibuang negeri adalah, menjauhkan mereka dari jalanan umum dengan menyumbatkan mereka ke dalam penjara dibalik empat tembok, mengikut balasan hukuman yang harus mereka jalani dalam tempoh tertentu, demikian itu sebagai pencegahan bagi mereka agar tidak kembali melakukan jenayah

Jika mereka kembali lagi melakukannya, maka penalti hukuman digandakan, kecuali penalti hukuman zina yang terjadi suka sama suka antara penzina lelaki dan penzina perempuan, sama sahaja seratus kali sebatan pada setiap kali berulangnya, tetapi pembegal (penyamun) jalanan yang memperkosa, maka dua ratus sebatan, tangan dan kakinya dilukakan dengan sebatan secara silang, seratus sebatan untuk telapak tangan kirinya dan seratus sebatan lagi untuk melukakan telapak kaki kanannya

Ini kerana had diangkat bagi wanita yang dirogol dan ditambahkan pada lelaki yang merogolnya, tidak termasuk yang merogol anak kecil lalu mangsa mati, maka di sini penalti hukumannya adalah disalib dengan memenggal kepalanya terpisah dari badan, lalu kepalanya digantungkan di jalanan umum untuk tasyhir, sebagai pelajaran dan peringatan untuk orang lain

Masih ada banyak penjelasan dan perincian pada kami mengenai ketentuan dan aturan (hudud) Allah terhadap orang-orang yang membuat kerosakan di muka bumi, hudud untuk menghalang dari terjadinya kezaliman dan penganiayaan sesama manusia


Tidaklah sama hukuman yang diterima oleh pencuri-pencuri, tidaklah pencuri kereta sama seperti orang yang mencuri telur, begitupun demikian, Allah telah memberikan kepada mangsa kecurian hak kekuasaan, untuk memaafkan sekiranya dia mahu memaafkan pencuri, semata-mata kerana mengharapkan keredhaan Allah

Sekiranya pemilik telur tidak mahu memaafkan pencuri telurnya, sedangkan jelas bawa pencuri itu orang miskin yang lapar, sekalipun pemilik telur tidak memaafkannya, maka tidak boleh penalti hukuman pencuri dijalankan terhadap orang miskin itu, namun harga telur dibayarkan dari Baitul Mal umat Islam, kerana ada hak bagi orang-orang miskin dalam Baitul Mal kaum muslimin


Demikian juga pencurian terhadap makanan yang telah siap sedia untuk dimakan, yang dilakukan oleh orang-orang miskin untuk menghilangkan rasa lapar mereka, justeru hendaklah kasus pencurian itu disiasat, sekiranya jelas para pelakunya adalah orang miskin yang tidak punya apa-apa untuk dimakan, maka tidak boleh menjalankan hukuman Allah terhadapnya; namun harga makanan dibayarkan dari Baitul Mal umat Islam, seandainya ada keadilan
dalam menyalurkan harta Baitul Mal bagi yang berhak serta adanya toleransi, nescaya orang miskin tidak mencuri telur atau makanan untuk menghilangkan laparnya

Apapun, sesungguhnya Allah telah berikan hak kekuasaan pada mangsa kecurian, sebagaimana yang Allah berikan pada pihak yang menuntut balas kematian ahli keluarganya secara aniya, sama ada hukum qishas, membayar wang tebusan, atau memaafkan, semata-mata kerana mengharapkan redha Allah, betapa kalian ini telah menyeleweng dan mencemar nama baik agama Islam, dengan berbagai penyimpangan terhadap agama yang menjadi rahmat untuk seluruh dunia
!


Manakala para perampok dan pembegal di jalanan, Allah tidak perbolehkan kalian membunuh mereka, kecuali dalam kondisi mereka telah membunuh seseorang di jalanan, maka hendaklah mereka itu ditangkap, lalu dijalankan hukum qishas dengan pedang, dengan hukuman pancung yang dijatuhkan oleh hakim, melainkan pihak yang menuntut balas memaafkan mereka

Sekiranya orang-orang yang berbuat kerosakan di muka bumi, berjuang menentang keamanan negara dan mengganggu keamanan rakyat, maka di sini hendaklah mereka itu diperangi dan dibunuh, meskipun mereka bukan pembunuh, selagimana mereka mereka memerangi kalian maka perangilah mereka, namun sekiranya mereka menyerah diri, maka setiap seorang dari mereka akan mendapatkan penalti hukuman sebagai balasan, mengikuti kadar kesalahan yang telah mereka lakukan tanpa sebarang penganiayaan terhadap mereka

Salam ke atas para rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam..


Khalifah Allah di bumi, yang berkata-kata dengan perkataan yang memisahkan antara yang hak dan yang batil, yang memberikan hukum keputusan yang adil dengan Al Quran;

Al Imam Al Mahdi Nasser Mohammed Al Yamani
_______________





اقتباس المشاركة: 235535 من الموضوع: بيان التعزير والتشهير، وبيان حدّ السارقين بالخفية، وبيان حدّ النّهابين المتقطعين للمسافرين ..

- 1 -
[ لمتابعة رابط المشاركة الأصليّة للبيان ]
الإمام ناصر محمد اليماني
25 - 11 - 1437 هـ
28 - 08 - 2016 مـ
01:16 مساءً
ــــــــــــــــــــ



بيان التعزير والتشهير، وبيان حدّ السارقين بالخفية، وبيان حدّ النّهابين المتقطعين للمسافرين ..

بِسْم الله الرحمن الرحيم، والصلاة والسلام على كافة أنبياء الله ورسله المكرمين، وآلهم المطهرين وجميع المؤمنين في كلّ زمانٍ ومكانٍ إلى يوم الدين، أمّا بعد..

قال الله تعالى:
{وَإِن يَرَوْا كِسْفًا مِّنَ السَّمَاءِ سَاقِطًا يَقُولُوا سَحَابٌ مَّرْكُومٌ ﴿٤٤فَذَرْهُمْ حَتَّىٰ يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي فِيهِ يُصْعَقُونَ ﴿٤٥يَوْمَ لَا يُغْنِي عَنْهُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ ﴿٤٦وَإِنَّ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا عَذَابًا دُونَ ذَٰلِكَ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴿٤٧وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ ﴿٤٨وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ ﴿٤٩} صدق الله العظيم [الطور].

والله الذي لا إله غيره إنّ عذاب الله لآتٍ في هذه الأمّة فيرسله الله على الظالمين من السماء والأرض، ولسوف يبدو لكم من الله ما لم تكونوا تحتسبون، ولقد أعلنتُ لكم وأسررتُ لكم إسراراً، وحذّرتكم أنّ الله غضِب لكتابه الذي أبيتُم أن تحتكموا إليه فيما كُنتُم فيه تختلفون.

وربّما يودّ أحد عامة المسلمين أن يقول: "وما يدرينا أنّك أنت المهديّ المنتظَر! فلَكَم ادّعى شخصيّة المهديّ المنتظَر كثيرٌ من الشخصيّات؛ أكثر من ثلاثين كذاباً وكلّاً منهم يقول إنّه المهديّ المنتظَر، ولذلك نظنّ أنّك لستَ إلا على شاكلتهم يا ناصر محمد اليماني، ولذلك يجب عليك أن تعذر عامة المسلمين كوننا منتظرون إذا صدّق العلماء أنّك المهديّ المنتظَر صدّقناك واتّبعناك، وإن كذّبوا كذّبناك". فمن ثمّ يردّ المهديّ المنتظَر ناصر محمد اليماني: بئس العقول عقولكم وبئس العلماء علماؤكم الذين لا يفرّقون بين البعير والحمير ولا يفرّقون بين التعزير والتشهير، فوالله الذي لا إله غيره إنّ الفرق بين المهديّ المنتظَر الحقّ وبين مدّعي شخصيّة المهديّ المنتظَر باطلاً وافتراءً هو كالفرق بين جملٍ بعيرٍ بين ثلاثين من الحمير! فهل لا تستطيعون أن تميّزوا البعير من بين مجموعة الحمير؟ فكذلك علماؤكم الذين تنتظرون تصديقهم حتى تتبعوا، فكذلك لا فرق لديهم بين التعزير والتشهير برغم أنّ الفرق عظيمٌ بين التعزير والتشهير، فَلَو تسألون كافة علمائكم وتقرأون كتيّباتهم لوجدتم أنّ التعزير حدٌّ من حدود الله يقام على المفسدين في الأرض. فمن ثمّ يقيم عليكم المهديّ المنتظَر ناصر محمد اليماني الحجّة من محكم كتاب الله لتعريف التعزير،
فتجدون الله يفتيكم أنّ التعزير هو شدّ أزر الأنبياء وأئمة الكتاب، فكيف تجعلون ذلك حدّاً على المفسدين في الأرض؟ فهل أنبياء الله في نظركم مفسدون في الأرض؟ ألم يأمركم الله بتعزيرهم؟ وتجدون فتوى الله في محكم كتابه في القرآن العظيم في آياتٍ بيّناتٍ لعلماء الأمّة وعامة المسلمين في آياتٍ بيناتٍ لا يكفر بها إلا الفاسقون، فهل تستطيعون يا كافة علماء المسلمين وعامتهم أن تنكروا بأنّ التعزير في محكم الكتاب هو شدّ الأزر وليس إقامة حدّ التعزير؟ بل تجدوه العكس تماماً! ويفتيكم الله أنّ التعزير هو شدّ الأزر نصرةً لأنبيائه. تصديقاً لقول الله تعالى: {إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ﴿٨لِّتُؤْمِنُوا بِاللَّـهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿٩} صدق الله العظيم [الفتح].

وكذلك اللهُ أمَرَ كلّ أمّةٍ أن تعزّر رسولهم الحقّ من ربهم. تصديقاً لقول الله تعالى:
{وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّـهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّـهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّـهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ ﴿١٢فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ} صدق الله العظيم [المائدة:12-13].

فانظروا ليوسف القرضاوي الذي يسمّي حدّ الرّجم حدّاً تعزيريّاً ويقول: "إنّه قد حكم به النبيّ بادئ الأمر كونه كان في الشريعة اليهوديّة". وَيَا سبحان الله! بل حدٌّ يهوديٌّ موضوعٌ مفترى في دين محمدٍ رسول الله صلّى الله عليه وآله وسلّم، ولم ينزّل اللهُ حدَّ الرجم بالحجارة حتى الموت؛ بل ذلك حدٌّ في حكم الطاغوت جاء به الشيطان الرجيم ليتمّ تطبيقه على الذين يرتدّون عن عبادة الطاغوت والأصنام إلى عبادة الله الحقّ، ثم حكم الطاغوت عليهم بالرجم بالحجارة حتى الموت. ولذلك قال الله تعالى في قصة أصحاب الكهف؛ قال الله تعالى:
{إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا ﴿٢٠﴾} صدق الله العظيم [الكهف].

فالسؤال الذي يطرح نفسه: فهل تحكمون بحكم الطاغوت الشيطان الرجيم؟ فذلك حكمٌ جاء به الشيطان الطاغوت وأمر أولياءه أن يطبّقوا حدّ الرجم على من ارتدّ من عبادة الأوثان إلى عبادة الرحمن، فوالله إنكم لتحكمون بحكم الشيطان وتذرون حكم الرحمن في محكم القرآن.

وبالنسبة لحدّ الرجم للزاني المتزوج، نعم هو حدٌّ يهوديٌّ مفترى على الله ورسله كما فصلناه لكم تفصيلاً منذ عددٍ من السنين، ولم يكن شريعةً يهوديّةً بل حدّاً يهوديّاً مفترًى من شياطين البشر المنافقين من اليهود على الله ورسوله، ولم يُنزَّل به سلطاناً لا في التوراة ولا في الإنجيل ولا في القرآن العظيم. وثانياً، كيف يحكم به النبيّ بادئ الأمر؟ ألم ينهَ الله رسوله ويحذّره أن يتّبع أهوائهم؟ بل أمره الله أن يحكم بينهم فيما اختلفوا فيه في التوراة والإنجيل فيأتي بالحكم مما أنزل الله في محكم القرآن العظيم ثم يأتيهم الله بحكمه الحقّ من محكم القرآن، كون الله جعل القرآن هو المُهيمن على التوراة والإنجيل وأحاديث السّنة النبويّة، فما جاء مخالفاً لمحكم القرآن العظيم فهو مُفترى من عند غير الله.

وأما التعزير فلا أجده في كتاب الله أنّه حدودٌ جزائيّة؛ بل العكس تماماً هو دعوةٌ من الله أنْ تقرضوه لشدّ أزر رُسله وأئمة الكتاب. تصديقاً لقول الله تعالى:
{وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّـهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّـهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّـهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ ﴿١٢فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ} صدق الله العظيم.

وقال الله تعالى:
{إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا ﴿٨لِّتُؤْمِنُوا بِاللَّـهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا ﴿٩} صدق الله العظيم [الفتح].

فكيف تجعل التعزير حدّاً جزائيّاً يا قرضاوي؟ بل الحدّ الجزائيّ هو التشهير بالقاتل من بعد تنفيذه عليه بالصلب، فمن ثمّ يُدفن جثمانه في القبر وأما رأسه فيُمَلَّحُ ويُعلّق بالشارع العام ليكون عبرةً لمن يعتبر للذين يقتلون الناس ظلماً وعدواناً، ويُسمّى ذلك تشهيراً وليس تعزيراً، كون التعزير هو شدّ الأزر وأمّا التشهير فهو أن تشهّروا حدود الله للذين أقمتم عليهم حدَّ الله إذا لم يعفُ وليّ الدّم لوجه الله.

وكذلك حدّ السرقة فتُقطّع أيديهم بالضرب من المعصم؛ أي الكف ليدٍ واحدةٍ حتى تقطر بالدم من السوط، ولا يقصد الله أن تقطعوا أيديهم بقصّها؛ بل الجروح في كفّ السارق الأيسر فقط، وذلك بالجلد حتى تقطر يده دماً كما سوف نوضحه من بعد التمكين.

وبالنسبة للذين ينهبون الناسَ أموالهم في السبيل، فذلك نهبٌ أعظم من السَّرقة الخفيّة كونه يرافقه قهرٌ عظيمٌ للمنهوب الضعيف، فحكم الله في الكتاب أن تُقطّع أيديهم وأرجلهم من خلافٍ، أي تقطّع بالجَلد من الجروح حتى تقطرَ يده اليسرى وحَفَا قدمه من الأسفل، فلا يقصد الله أن تقصّوا أيديهم وأرجلهم؛ إذاً فكيف إذا سرق مرةً أخرى فماذا تقطعون اليد الأخرى، أم الرجل الأخرى!! إذاً فكيف يزيل نجاسة الأذى؟ وكيف يتوضأ؟ وكيف يشتغل لأولاده من بعد التوبة والردْع، ولا ولن تستطيعوا أن تقولوا أنّ الله يقصد في قصة النسوة اللاتي قطّعن أيديهن أنّه قَصُّ أيديهن، كون النسوة لم يقصصن أيديهنّ حين
رأين يوسف؛ {فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ} صدق الله العظيم [يوسف:31]، ويتبيّن لكم إنّما يقصد الله أنّهنّ جرحْن أيديهن بالسكاكين؛ أي جروحٍ ولا يقصد قَصّ اليد.

وعلى كلّ حالٍ لسوف نترك المزيد من التفصيل في حدّ السرقة وقطع السبيل كونه أنواع على قدر الجريمة، فمنهم الذين همّوا وتمّ القبض عليهم وهم قطّاع سبيلٍ إلا أنّهم لم يفعلوا شيئاً بعد، فأولئك حدّهم النفي من الأرض، ولا يقصد الله أن تنفوهم فوق قومٍ آخرين فسوف يفسدون في أرضهم؛ بل يقصد الله بالنفي من الأرض أي من الشارع العام إلى السجن بين أربعة حيطانٍ بحسب جزائه زمناً معلوماً، وذلك ردعٌ له حتى لا يعود لما فعل، وإن عاد فيضاعف الحدّ الجزائيّ باستثناء حدّ الزنى بالتّراضي بين الزاني والزانية مائة جلدةٍ على حدّ سواء في كلّ مرة إلا قاطع السبيل المغتصب فمائتي جلدة، فتقطّع أيديهم وأرجلهم من خِلافٍ فمائة لتقطّع كفّ يده اليسرى ومائة لتقطّع حفا قدمه الأيمن كون حدّ المرأة المغتصبة يرفع عنها ويضاف إلى المغتصب، إلا من اغتصب طفلةً فماتت فهنا حدّه الصلب فيفصل رأسه عن جسده فيعلّق رأسه للتشهير في الشارع العام للعظة والعبرة. ولا يزال لدينا الكثير من التفصيل في حدود الله للمفسدين في الأرض لمنع ظلم الإنسان عن أخيه الإنسان.

ولا تستوي السرقات، فليس سارق السيّارة كمن يسرق بيضةً، وكذلك قد جعل الله لصاحب السرقة سلطان حقِّ العفو إن أراد أن يعفو لوجه الله، وإن أبَى أن يعفو صاحب البيض عن بيضته وتبيّن أنّ سارقها كان مسكيناً جائعاً فحتى ولو لم يعفُ عنه صاحب البيضة فلا يجوز أن يُقام حدّ السرقة على المسكين ويعطى ثمن البيضة من بيت مال المسلمين، كون للمسكين حقٌّ في بيت مال المسلمين.
وكذلك سرقة الطعام الجاهز من قبل المساكين ليُشبعوا جوعهم فيتمّ التحقيق في قضية السرقة فإن تبيّن أنهم مساكين لا يجدون ما يأكلون فهنا لا يجوز إقامة حدّ الله عليه؛ بل يُعطى قيمة الطعام من بيت مال المسلمين. ولو كانت هناك عدالةً في مصارف بيت مال المسلمين ورحمةً لَما سرق المسكين بيضةً أو طعاماً ليُشبع جوعه. وعلى كلّ حالٍ لقد جعل الله سلطاناً لصاحب السرقة كما جعل الله سلطاناً لولي دم المقتول ظلماً، فإمّا القصاص وإما أخذ الديّة والعفو لوجه الله. ولَكَمْ شوّهتم دين الرحمة للعالمين أيُّما تشويهٍ!

وأمّا الذين يقطعون السبيل فلم يَحِل الله قتلهم إلا في حالةِ أنّهم قتلوا أحداً في السبيل، فهنا يتمّ القبض عليهم، وحكم القصاص بالسيف، فيحكم الحاكم بقطع عنقه إلا أن يعفو ولي الدم. وإن قاوم المفسدون في الأرض أمن البلاد والعباد فهنا تتمّ محاربتهم وقتلهم حتى ولو لم يكونوا قتلةً، فما دام قاتلوكم فقاتلوهم، وإن سلّموا أنفسهم فيأخذ كلٌّ منهم حكمه الجزائيّ بالحقّ حسب ذنبه من غير ظلمٍ. وسلامٌ على المرسلين، والحمد لله ربّ العالمين..

خليفة الله في الأرض يقول فصلاً ويحكم عدلاً بما أنزل الله؛ الإمام المهديّ ناصر محمد اليماني.
_______________