Al Imam Nasser Mohammed Al Yamani
22 - محرم - 1440 هـ
02 - 10 - 2018 مـ
11:49 صباحاً
(mengikut takwim rasmi Makkah)
[ikuti pautan postingan keterangan asal]
https://www.mahdialumma.com/showthread.php?t=35978
ــــــــــــــــــــــــ


Balasan Al Imam Al Mahdi Dalam Mesej Peribadi Kepada Abdullah Pencari Kebenaran, Kebenaran Lebih Layak Untuk Diikuti, Tiada Rahsia Pada Kami Dalam Menjelaskan Kebenaran..

Postingan asal ditulis oleh Abdullah Pencari Kebenaran

Postingan asal ditulis oleh Al Imam Nasser Mohammed Al Yamani

Dengan nama Allah Ar Rahman Ar Rahim, sholawat dan salam ke atas nendaku Muhammad, penutup para nabi dan rasul, wahai kekasihku di jalan Allah, sesungguhnya hak Allah (yang perlu dipenuhi oleh hamba-Nya) adalah hak yang terbesar sekali dari apapun, apa lagi yang ada setelah kebenaran melainkan kebatilan, tiada pemberi syafaat (pertolongan), janganlah engkau memohon dengan hak sesiapapun yang ada dari kalangan hamba, sedang dia juga adalah hamba Allah seperti dirimu sebagai hamba Allah, engkau juga punya hak pada Allah sebagaimana hamba-hamba-Nya yang lain

Maka jadilah engkau termasuk kalangan hamba-hamba-Nya yang bersyukur wahai penyejuk mataku, mohonlah kepada Tuhanmu -Maha Suci Dia- dengan hak nama-nama-Nya yang indah dan dengan sifat-sifat ketinggian-Nya, cukuplah Allah sebagai pelindung, janganlah engkau menyeru seorangpun beserta Allah, jangan bertawassul dengan sesiapapun, kerana Allah Maha Pengasih, Dia lebih mengasihimu dari ibumu, ayahmu dan dari hamba-hamba-Nya semua, dan aku mencintaimu kerana Allah, salam ke atas para rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam.

Saudara kalian Al Imam Al Mahdi Nasser Mohammed Al Yamani

Terima kasih atas balasanmu saudaraku di jalan Allah, Nasser Mohammed, sesungguhnya aku mematuhi aturan dalam solatku agar aku bersolat di atas tanah bumi, sekiranya aku bersujud di atas tanah (debu) dari tanah Karbala, maka aku melakukannya kerana kepatuhan, yakni aku berkewajiban meletakkan kepalaku di atas bumi, atau yang tumbuh dari bumi seperti tikar yang ditenun, aku tidak bersujud di atas sejadah dan ini berdasarkan hadits-hadits mutawatir dari Muhammad dan Ahlul Bayt Nabi;

Apakah hukumnya bersujud di atas sejadah? Aku tahu engkau meletakkan persyaratan khusus dalam hiwar mengenai permasalahan solat, sedangkan aku ini hanya orang biasa, seorang hamba Allah dari hamba-hamba Allah, aku saudaramu dalam silsilah keturunan, aku dapat menghidu haruman kebaikan dan petunjuk dalam bayan keteranganmu, namun aku tidak ingin membai'ahmu kecuali setelah selesai membaca bayan-bayan keteranganmu, sehinggalah aku berada di atas hujjah yang nyata dan yakin, dan dengan pertolongan Allah aku telah selesaikan bacaanku pada seluruh kenyataan dalam bayan keterangan mengenai solat dan selainnya.

Sesungguhnya cara Nabi -shollallaahu 'alayhi wasallam- adalah bersujud di atas bumi -tanah- atau yang tumbuh dari bumi seperti tikar (dari tumbuhan), dan Nabi -shollallaahu 'alayhi wasallam- juga menganjurkan orang lain untuk berbuat demikian, sebagaimana cara umat Islam di zaman Rasulullah -shollallaahu 'alayhi wasallam-, bersujud adalah di atas lantai tanah masjid yang beralaskan batu-batu kecil (kerikil), dan umat Islam di zaman itu juga sangat gemar bersujud di atas batu-batu kerikil masjid betapapun dahsyat kepanasannya, suatu perkara yang menunjukkan keharusan bersujud di atas tanah bumi.

Imam Baqir -'alayhissalaam- mengatakan dalam jawaban terhadap pertanyaan mengenai bersujud di atas aspal -yakni tar-: "Tidak, tidak juga di atas baju katun (dari kain kapas), juga di atas wol (kain dari bulu domba), dan tidak juga di atas sesuatu dari bahan haiwan, tidak di atas makanan, tidak juga di atas sesuatu dari hasil bumi (buah-buahan atau biji-bijian), dan tidak juga di atas sesuatu dari bulu-bulu burung"

Imam Jaafar Shodiq -'alayhissalaam- ditanya mengenai bersolat di atas karpet, bulu-bulu dan permaidani, lalu dia menjawab: "Jangan bersujud di atasnya, jika engkau (solat) berdiri di atasnya dan sujud di atas tanah maka tidak mengapa, dan jika engkau membentangkan tikar tenunan di atas tanah dan bersujud di atas tikar itu maka tidak mengapa. Risalah-risalah Syi'ah (Wasaail As Shia): 3/592

Ada seorang sahabat bersujud di atas gulungan serbannya lalu Nabi -shollallaahu 'alayhi wasallam- menepis dengan tangannya untuk menyingkirkan serban itu dari dahi sahabat tersebut. Sunan Baihaqi: 2/105

Aku mohon Allah menerangkan hati kita dan menyegerakan pelepasan Qaim (Al Mahdi) dari keluarga Muhammad, semoga Allah menjaganya dari makar tipudaya musuh-musuh-Nya

Dengan nama Allah Ar Rahman Ar Rahim, sholawat dan salam ke atas nendaku Muhammad Rasulullah, juga ke atas orang-orang yang menolong dan mengikuti jalannya berdasarkan hujjah bukti yang nyata dari Allah..

Wahai penyejuk mataku, sesungguhnya aku dapatkan perintah Allah mengenai tempat bersujud pada-Nya dalam muhkam Al Quran, adalah memastikan tempat bersujud itu suci dan bersih dari kotoran zahir semampumu, pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku' dan sujud
Maha Benar Allah
[Al Hajj:26]


Sesungguhnya suci dari kotoran itu adalah supaya ianya bersih, demikian juga membersihkan pakaian dari kotoran tatkala engkau menyadari ianya terlihat kotor atau ada berbau najis, pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:
dan pakaianmu bersihkanlah, Maha Benar Allah [Al Muddatstsir 4], melainkan sekiranya engkau bermusafir, tidaklah Allah jadikan untuk kalian dalam agama suatu kepayahan.


Apa yang penting, sujud yang paling utama itu adalah di atas sesuatu yang suci dari kotoran dan bau najis yang mengganggu, sama ada atas sejadah, serban, tanah atau atas kerikil, biasanya bau najis akan mengganggu indera penciuman, walaupun sekiranya ia bukan najis zahir yang nampak di tempat sujud, tetap indera penciuman dapat mengesan adanya bau busuk dari kotoran najis.


Kami nyatakan dengan kebenaran, bahawasanya engkau diperbolehkan untuk bersujud kepada Tuhanmu di atas tiap-tiap sesuatu yang suci dari kotoran dan bau najis yang jelas kelihatan ianya kotor, sekiranya engkau tidak menyadari melainkan setelah sujud lalu engkau menghidu bau tempat sujud itu najis, maka jangan engkau putuskan solatmu, di sini hendaklah engkau rapatkan kedua telapak tanganmu antara satu sama lain ketika meletakkan dahimu untuk bersujud, demikian itu agar engkau bersujud di atas kedua belakang tanganmu yang bersih, janganlah engkau sengaja bermaksud menampakkan tanda bekas sujud di dahimu, kelak engkau masuk dalam syirik riya dengan menyekutukan Tuhanmu dalam solat, sesungguhnya berbuat syirik adalah kezaliman yang besar.


Janganlah engkau bersujud di atas tanah ayahandaku Imam Hussain -'alayhissholaatu wassalaamu-, betapapun tanah itu suci, disebabkan ianya dinamakan sebagai tanah (debu) Hussain, kerana yang demikian itu adalah bid'ah, Allah dan Rasul-Nya tidak menyuruh kalian untuk melakukannya, seandainya ia adalah debu tanah tanpa diberi nama sedemikian rupa maka tidak mengapa

Adapun bilamana ia punyai nama 'Debu tanah Hussain', lalu engkau sujud atasnya, maka yang demikian adalah perbuatan syirik ketika dahimu bersujud untuk Tuhan wahai penyejuk mataku, bahkan sekalipun niatmu adalah engkau bersujud atas tanah biasa, namun ianya dapat menjadi penyebab syirik bagi orang lain selain dirimu, kerana mereka melihatmu sujud atas debu tanah Hussain.


Walau bagaimanapun, kami mengizinkan hanya ketika engkau melakukannya dalam keadaan terpaksa, untuk memelihara diri dari makar jahat orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, kecuali mereka itu dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan hamba-hamba Allah yang didekatkan-Nya, pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.
Maha Benar Allah
[An Nahl 106]


Jadilah engkau termasuk kalangan yang bersyukur, ingkarilah adanya syafaat (pertolongan) dari para nabi dan rasul seluruhnya, ketahuilah engkau bahawasanya syafaat keseluruhannya adalah milik Allah; rahmat-Nya yang mensyafaatimu dari azab seksaan-Nya sekiranya engkau tidak berputus asa dari rahmat Allah, Dia-lah yang paling pengasih dari sekalian yang mengasihani

Merasa cukuplah engkau dengan rahmat Allah, Dzat yang lebih menyayangimu dari sekalian makhluk-Nya, Dia-lah Allah yang paling mengasihani makhluk-Nya dari mereka semua, demikian itulah hujjahmu terhadap Tuhanmu -tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia- bahawasanya Dia-lah Allah yang paling pengasih dari sekalian yang mengasihani, adakah kelak allah akan mengingkari hujjahmu itu terhadap-Nya, bahawa Dia-lah yang paling penyayang dari semua
?
Tidaklah layak adanya siapapun dalam kewujudan ini yang lebih penyayang dari Allah yang disembah, Dia-lah yang lebih mengasihani dari semuanya, Dia lebih mengasihani dirimu dari para nabi, para wali dan orang-orang sholeh semuanya, Dia lebih menyayangimu dari ibumu, ayahmu dan dari manusia seluruhnya, akan tetapi sayangnya, tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah melainkan mereka dalam keadaan menyekutukan Allah dengan hamba-hamba-Nya yang didekatkan

Maka ikutlah aku agar aku tuntun dirimu ke jalan yang lurus, jalan Tuhanku dan Tuhanmu, jalan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, pembenaran terhadap firman Allah Ta'ala:
Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus
Maha Benar Allah
[Huud 56]


Telah dekat azab seksaan Allah untuk orang-orang yang berpaling dari penyeru kebenaran dari Tuhan mereka, maka tunggulah kalian akan azab seksaan itu, sesungguhnya aku juga menunggu bersama kalian, salam ke atas para rasul dan segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam..


Saudara kalian, Al Imam Al Mahdi Nasser Mohammed Al Yamani
____________




اقتباس المشاركة: 295837 من الموضوع: ردّ الإمام المهديّ على عبد الله الباحث عن الحقّ في رسالةٍ خاصةٍ، والحقّ أحقّ أن يتّبع فليس لدينا أسرار في تبيان الحقّ ..



الإمام ناصر محمد اليماني
22 - محرم - 1440 هـ
02 - 10 - 2018 مـ
11:49 صباحاً
( بحسب التقويم الرسمي لأمّ القرى )

[ لمتابعة رابط المشاركـة الأصليّة للبيان ]
https://www.mahdialumma.com/showthread.php?p=295832
ــــــــــــــــــــــــ



ردّ الإمام المهديّ على عبد الله الباحث عن الحقّ في رسالةٍ خاصةٍ
والحقّ أحقّ أن يتّبع فليس لدينا أسرار في تبيان الحقّ ..

المشاركة الأصلية كتبت بواسطة عبدالله الباحث
المشاركة الأصلية كتبت بواسطة الإمام ناصر محمد اليماني
بسم الله الرحمن الرحيم، والصلاة والسلام على جدي محمد خاتم الأنبياء والمرسلين، ويا حبيبي في الله إنّ حق الله أكبر من أيّ حقٍّ، وماذا بعد الحق إلا الضلال، فلا شفيع، ولا تسأل بحقّ أيّ عبدٍ كائنٍ من كان في الوجود فهو عبدٌ لله كما أنت عبدٌ لله ولك الحق في الله كما لأيٍّ من عباده، فكن من الشاكرين يا قرة العين، وسل ربك سبحانه بحق أسمائه الحسنى وصفاته العُلى، وكفى بالله وكيلاً فلا تدعو مع الله احداً ولا تتوسل بأحدٍ فهو أرحم بك من أمك وأبيك ومن كافة عبيده أجمعين، وأحبك في الله، وسلامٌ على المرسلين، والحمد لله ربّ العالمين.

أخوكم الإمام المهديّ ناصر محمد اليماني

شكرا على الرد عزيزي في الله ناصر محمد، إني ألتزم في صلاتي أن أصلي على تراب الأرض ، و إن سجدت على تربة من تراب كربلاء فإني أفعل ذلك إلتزاما بأن أضع رأسي على الأرض أو ما ينبت من الأرض كالحصير و لا آسجد على السجاد استنادا الى الأحاديث المتواترة من محمد و آله؛ فما هو حكم السجود على السجاد؟ أعلم إنك اشترطت شروطا معينة في مسائل الصلاة، و ما أنا إلا عبد من عبيد الله و قريبك في السلالة و إني لأشم رائحة الطيب و الهدى في خطاباتك ، لا أريد أن أبايعك إلا بعد أن أستكمل قراءة بياناتك حتى أكون على بينة و يقين و قد استكملت بعون الله قراءة جميع ما ورد في بيان الصلاة و غيرها.

أن سيرة النبي ( صلَّى الله عليه و آله ) كانت السجود على الأرض ـ التراب ـ أو ما ينبُت منه كالحصير ، و كان ( صلَّى الله عليه و آله ) يَحُثُّ الآخرين عليه ، كما أن سيرة المسلمين في عهد الرسول ( صلَّى الله عليه و آله ) كانت السجود على أرض المسجد المفروشة بالحصى ، و كان المسلمون يحرصون على السجود على حصى المسجد رغم شدة حرارتها مما يؤكد ضرورة السجود على الأرض .

قال الإمام الباقر ( عليه السَّلام ) في جواب من سأله عن السجود على الزفت ـ يعني القير ـ : " لا و لا على الثوب الكرسف ، و لا على الصوف ، و لا على شيء من الحيوان ، و لا على الطعام ، و لا على شيء من ثمار الأرض ، و لا على شيء من الرياش.

و سئل الإمام الصادق ( عليه السَّلام ) عن الصلاة على البساط و الشعر و الطنافس ، فقال : " لا تسجد عليه ، و إن قمت عليه و سجدت على الأرض فلا بأس ، و إن بسطت عليه الحصير و سجدت على الحصير فلا بأس. وسائل الشيعة : 3 / 592

كان أحد الصحابة يسجد على كَوْرِ عمامته فأزاح النبي ( صلَّى الله عليه و آله )بيده عمامته عن جبهته. سنن البيهقي : 2 / 105
أسأل الله أن ينير قلوبنا و أن يعجل فرج قائم آل محمد و أن يحميه من كيد الأعداء

بسم الله الرحمن الرحيم، والصلاة والسلام على جدّي محمد رسول الله ومن والاه واتّبع نهجه على بصيرةٍ من الله..
ويا قرة العين إني أجد أمر الله في مكان السجود له في محكم الكتاب هو طهارة الشيء الذي سوف تسجد عليه من الأوساخ الظاهرة ما استطعت تصديقاً لقول الله تعالى:
{وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ ﴿٢٦﴾} صدق الله العظيم [الحج].

وإنما الطهارة من الأوساخ ليصبح نظيفاً، وكذلك تطهير الثياب من الأوساخ حين تشعر بأنها وَسِخَةُ المنظر أو الرائحةُ نجسةٌ تصديقاً لقول الله تعالى:
{{وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ﴿٤﴾}} صدق الله العظيم [المدثر]، إلا أن تكون على سفرٍ فما جعل الله عليكم في الدين من حرجٍ.

والمهم أفضل السجود على شيءٍ طاهرٍ من الوساخة والرائحة النجسة المؤذية سواء يكون سجاداً أو عمامةً أو تراباً أو حصى، ودائماً الرائحة النجسة مؤذيةٌ شمّها، وحتى ولو لم تكن النجاسة ظاهرةً على مكان السجود بحاسة النظر فتكشف الرائحةَ النجسة حاسةُ الشمَّ.

ونفتيك بالحقّ أنه يجوز لك أن تسجد لربّك على كل شيءٍ طاهرٍ من الوساخة والرائحة القذرة الْبيّنة أنها وَسِخةٌ بالنظر إليها، وإذا لم تتنبه إلا بعد السجود فشممت أنّ رائحة مكان السجود نجسةٌ فلا تقطع الصلاة، فهنا تضمّ كفيك إلى بعضهما حين سجود الجباه، وذلك حتى تسجد على ظهر يديك الطاهرة، وإياك أن تتعمد إظهار العمدة على الجبهة بقصدٍ وتعمدٍ منك فتدخل في شرك الرياء بالإشراك في الصلاة لربك، إنّ الشرك لظلمٌ عظيم.

ولا تسجد على تراب أبتي الإمام الحسين عليه الصلاة والسلام مهما كان طاهرَ التراب بسبب تسميته بتراب الحسين فتلك بدعةٌ ما أمركم بها الله ورسوله، ولو كانت تراباً من غير تسمية فلا بأس بذلك، وأمّا وله اسم (تراب الحسين) فتسجد على ترابه فذلك شركٌ في سجود جبينك لربك يا قرّة العين، وحتى ولو كانت نيتك أنك تسجد على ترابٍ عاديٍّ فسوف تكون سبباً في شرك غيرك كونه يراك تسجد على تراب الحسين.

وعلى كل حالٍ نسمح لك فقط في حالة الاضطرار تُقاة مكر الذين لا يؤمنون بالله إلا وهم مشركون به عباده المقربين تصديقاً لقول الله تعالى:
{مَن كَفَرَ بِاللَّـهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّـهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ﴿١٠٦﴾} صدق الله العظيم [النحل].

وكن من الشاكرين، واكفر بشفاعة الأنبياءِ؛ الأنبياء جميعاً، واعلم أنّ الشفاعة لله جميعاً؛ تشفع لك رحمته من عذابه إن لم تكن مبلساً من رحمة الله أرحم الراحمين، واستغنِ برحمة من هو أرحم بك منهم جميعاً الله أرحم الراحمين، فتلك حجّتك على ربك لا إله غيره بأنّ الله أرحم الراحمين، فهل سوف ينكر الله سبحانه حجّتك عليه أنه أرحم الراحمين؟ فلا ينبغي أن يكون هناك في الوجود من هو أرحم من الله المعبود أرحم الراحمين أرحمَ بك من الأنبياء والأولياء والصالحين جميعاً وأرحمَ بك من أمّك وأبيك ومن الناس أجمعين، ولكن للأسف لا يؤمن أكثرُهم بالله إلا وهم مشركون به عبادَه المقربين، فاتّبعني أهدك صراطاً مستقيماً صراط ربي وربك الله العزيز الحميد تصديقاً لقول الله تعالى:
{إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٥٦﴾}
صدق الله العظيم [هود].

واقترب عذاب الله للمعرضين عن داعي الحقّ من ربّهم، فارتقبوا إني معكم رقيبٌ، وسلامٌ على المرسلين، والحمد لله ربّ العالمين..

أخوكم الإمام المهديّ ناصر محمد اليماني.
____________